Senin, 24 Januari 2011

Nasib Sekolah Anak Inklusif


Sekedar meringankan beban kritikan yang sulit tersampaikan kepada pendidikan Indonesia yang serba ala kadarnya khususnya di sekolah negeri .Gue merasa  prihatin dengan anak-anak terutama anak berkebutuhan khusus dan anak-anak kurang beruntung atau biasa orang dengan sekonyong-konyong bilang , cacat. 
Buat gue,mereka ga cacat. Mereka luar biasa ! tidak dalam tanda kutip tidak juga dalam tanda sebagian saja.

Anak-anak pada dasarya membutuhkan kasih sayang dan perhatian seksama baik dari lingkungan keluarga maupun lingkungan di sekitarnya terutama di sekolah . Anak-anak berhak mendapatkan kebutuhan yang layak sebagaimana tercantum dalam moril maupun materil .
Tapi sayangnya mereka yang berkebutuhan khusus dan cacat masih sulit menjangkau pendidikan sesuai dengan kebutuhan mereka. Padahal mereka memiliki mimpi sama,cita-cita sama,dan keinginan yang sama meskipun dalam hal kemampuan ,mereka berbeda.


Berikut pengertian pendidikan inklusi menurut sumber :  
"pendidikan inklusi merupakan sebuah pendekatan yang berusaha mentransformasi sistem pendidikan dengan meniadakan hambatan-hambatan yang dapat menghalangi setiap siswa untuk berpartisipasi penuh dalam pendidikan. Hambatan yang ada bisa terkait dengan masalah etnik, gender, status sosial, kemiskinan dan lain-lain. Dengan kata lain pendidikan inklusi adalah pelayanan pendidikan anak berkebutuhan khusus yang dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.
Salah satu kelompok yang paling tereksklusi dalam memperoleh pendidikan adalah siswa penyandang cacat. Tapi ini bukanlah kelompok yang homogen. Sekolah dan layanan pendidikan lainnya harus fleksibel dan akomodatif untuk memenuhi keberagaman kebutuhan siswa. Mereka juga diharapkan dapat mencari anak-anak yang belum mendapatkan pendidikan."

http://smanj.sch.id/index.php/arsip-tulisan-bebas/40-artikel/115-pendidikan-inklusi-pendidikan-terhadap-anak-berkebutuhan-khusus

Sebelumnya gue bilang jujur disini bahwa posting ini ga lagi lain karena gue prihatin dengan adik gue sendiri bernama Irna .
  Di usianya yang menginjak 8 tahun seharusnya dia sudah menjajaki kelas 2 tapi dia terpaksa tinggal kelas meski akademiknya tidak buruk karena masalah konsentrasi belajar dan sikap.Meski demikian kedua orang tua gue ga pantang nyerah untuk cari sekolah inklusi negeri dan sederajat lainnya memasuki semester kedua.

Awal sekolah adik gue , dia masuk ke sebuah playgroup hingga Tk dekat rumah yang privat.Selama TK dia juga dibimbing seminggu dua kali dalam belajar oleh guru TKnya yang datang langsung ke rumah .Tapi perkembanganya tidak begitu berarti walaupun dengan bayaran mahal sang guru tidak profesional dibidang terapis anak -anak seperti irna.


Memasuki SD ,gue dan nyokap keliling depok untuk mencari sekolah inklusi yang di rekomendasikan oleh terapis irna ,tapi ternyata terlambat. Enggan kembali menduduki TK akhirnya orang tua terpaksa harus memasukkan irna ke sekolah SD negeri. 
Tahun pertama hancur lebur ,mulai masuk di tahun ini irna baru bisa konsentrasi .Tidak ada secara genetis yang salah dari irna, baik itu neurologis maupun fisik .Tapi psikis irna seperti anak ADHD,tidak bisa diam dan hyper. Tidak juga ada yang salah dalam kemampuan irna menangkapa pelajaran . Hanya sulit mengajaknya untuk belajar,sangat sulit.
Setahun di sekolah negeri irna terus mendapatkan terapi seminggu sekali dan hasilnya lebih baik . 

Hingga akhirnya di tahun ini gue dan orangtua berusaha mencari kembali sekolah inklusi yang sesuai dengan irna.Akhirnya sampailah kita mendatangi sekolah SD negeri yang menurut diknas menyediakan fasilitas dan terbuka untuk pelayanan anak-anak berkebutuhan khusus.

Namun tak seperti yang dibayangkan, pihak sekolah pun masih ada kata lepas tangan terhadap siswa tersebut menurut penafsiran gue dari sistematika yang dijelaskan oleh pihak sekolah tersebut .
Anak-anak berkebutuhan khusus memang harus diselaraskan dengan anak reguler tapi mengapa segala fasilitas khusus itu tidak disediakan oleh sekolah melainkan seluruhnya berdasarkan kemampuan orang tua murid.
Mungkin untuk orangtuaku yang bisa dibilang cukup,hal itu bukan masalah termasuk dalam menggaji shadow teacher dan menyediakan terapis sendiri tapi bagaimana nasib anak-anak berkebutuhan khusus lain yang tidak mampu ? 
Oh tidak jangan bilang bahwa mereka harus bergabung dengan SDLB negeri,Mereka berbeda !
Anak inklusif sangat berbeda dengan anak-anak yang berada di sekolah luar biasa,mereka sama tetapi berbeda  dalam penanganan masing-masing. Dan ketika memikirkan itu,gue tersentak bagaimana dengan jutaan anak-anak cacat atau pun berkebutuhan khusus lainnya ??? 
Irna pun di tolak dari SDLB karena memang irna bukan bertempat disitu.
ironi di negeri ini sungguh banyak sekali hingga bercermin serasa tak pantas.




Tak ayal di negeri ,swasta pun sedikit sekali yang benar-benar serius mengembangkan program iklan mereka berupa sekolah inklusi .Bahkan salah satu SD "kecoa-kecoa" di kelapa dua mundur dari program mereka tersebut dengan alasan keterbatasan padahal uang pangkal nya saja lebih dari gue kuliah hampir 15 juta . kemanakah aksi mengabdimu wahai guru ?

Benar-benar membuat panas topik ini . 

Melihat data depdiknas di internet sudah sepatutnya kita mengurut dada melihat di Jakarta saja hanya segelintir sekolah negeri yang menyediakan tempat untuk anak-anak inklusif .Tidak berbicara masalah swasta yang menyajikan harga melambung kantong , negeri pun mengalami arogansi intelektual dan anak-anak inklusi makin terdiskriminasi .
Belum bicara ke pelosok desa .. banyak nian kerja rumah tangga pendidikan di Indonesia. 


Mengingat kasus di desa di daerah sukabumi yang sebagian anak-anaknya mengalami cacat.Bagaimana dengan nasib mereka ? haruskah mereka mengemis untuk bersekolah ?



suatu perenungan, xoxo,
whiteroses

Tidak ada komentar:

Posting Komentar